Kisah Penjual yang Jujur
Hari ini aku mau cerita tentang kisah penjual jujur yang pernah aku temui. Semoga kisahnya dapat menginspirasi penjual serupa.
Saat itu kira-kira sekitar tahun 2013 silam. Di masa itu, transportasi online dan juga jasa makanan online belum marak seperti sekarang ini. Bahkan bus Trans Jakarta masih menggunakan pembiayaan secara tunai dan belum menggunakan kartu.
Aku sudah bekerja kala itu sebagai pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta. Karena perguruan tinggi tempatku mengajar memiliki beberapa cabang kampus, ada kalanya aku harus mendadak pindah dari satu kampus ke kampus cabang lainnya untuk meeting kepanitiaan atau rapat konsorsium.
Aku menggunakan moda transportasi publik untuk berpindah dari kampus satu ke kampus lainnya. Cukup melelahkan memang. Apalagi jika ada meeting mendadak di saat jam makan siang. Tidak ada cukup waktu untuk makan siang karena lalu lintas siang hari di Jakarta tidak dapat diprediksi dan aku tidak mau terlambat karena perkara kemacetan lalu lintas.
Biasanya jika sudah demikian, aku seringkali berhenti sejenak di warung makan pinggir jalan untuk sekedar minum ataupun makan sebelum melanjutkan perjalanan.
Suatu hari karena ada rapat mendadak di kampus bilangan Jakarta, mau tidak mau aku bersegera pindah kampus tanpa sempat makan siang.
Karena urusan perut, aku pun beristirahat di sebuah warung makan pinggir jalan yang aku temui lepas turun dari halte pemberhentian bis Trans Jakarta yang aku naiki sebelum melanjutkan perjalanan dengan moda trnasportasi lain. Warung nya sih biasa saja, seperti warung makan rumahan pada umumnya yang menyediakan lauk pauk nasi dan makanan rumahan khas Indonesia.
Saat aku memasuki rumah makan, terlihat sudah ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati makanan. Rumah makan tersebut cukup ramai, wajar karena saat itu adalah jam makan siang.
Aku lantas duduk dan merenggangkan otot-otot kaki yang sudah kepalang minta istirahat. Lumayan untuk meringankan beban laptop di pundak yang selama perjalanan aku jinjing di pundak.
Namun aku merasa ada hal yang mengganjal karena beberapa pengunjung tampak mengamatiku. Aku cuek karena barangkali mereka hanya asal lihat saja karena memang di rumah makan tersebut tidak ada hiburan lain seperti layar televisi atau semacamnya. Lagipula posisi duduk para pelanggan yang menghadap pintu masuk dmembuatku merasa wajar jika mereka memandang ke arah penggunjung yang baru saja masuk. Namun,lambat laun aku merasa mereka terus menerus memandangiku.
Selang tidak berapa lama kemudian, seorang bapak yang aku rasa adalah pemilik warung makan tersebut menghampiri dan sambil setengah berbisik Ia bertanya apakah aku muslim? Karena Ia memperhatikan aku yang menggunakan kerudung.
Setelah ku jawab "iya", bapak itu pun menyarankan padaku agar minum dan makan di rumah makan lain saja dengan bahasa yang halus. Saat aku mulai bertanya-tanya lantas Ia menjelaskan padaku bahwa Ia menyampaikan hal ini karena melihat ku yang memakai kerudung. Ia berpikir bahwa aku tak seharusnya makan di rumah makannya karena Ia menyediakan makanan yang tidak untuk dikonsumsi oleh muslim.
Aku terkejut karena aku lihat rumah makan ini cukup ramai. Saat kutanya, kenapa Ia hanya menginformasikan padaku, Ia berkata bahwa aku berkerudung dan Ia merasa aku harus tahu.
Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari rumah makan tersebut dan mencari rumah makan lain di dekat kampus yang biasanya menjadi tempat langgananku makan.
Memang tadi aku asal masuk saja karena benar-benar perlu duduk setelah hampir satu jam berdiri dalam bus.
Aku bersyukur bapak pemilik warung jujur padaku dengan konsekuensi kehilangan pelanggan. Saat itu aku sadar bahwa identitas itu perlu. Dan itu pula menjadi titik balik untukku menyadari bahwa sebagai muslim aku sepatutnya tidak cuek perkara makanan halal. Walaupun tinggal di Indonesia yang mayoritas beragama Islam, namun bukan berarti aku abai terhadap makanan dan minuman yang aku konsumsi. Apalagi sekarang ini banyak sekali modifikasi makanan dan minuman yang entah menggunakan bahan campuran apa di dalamnya.
Aku berharap banyak penjual seperti bapak tersebut yang jujur. Walaupun warung makan nya adalah usaha rumahan kecil-kecilan namun Ia berdagang tidak semata mengejar keuntungan saja namun juga menghargai para pelanggan yang mampir di rumah makannya.
Aku pun bersyukur bahwa kerudung yang aku kenakan menyelamatkan aku dari makan makanan yang tidak seharusnya aku makan sebagai muslim. Aku sungguh berterima kasih padanya karena berkat itu, aku sadar bahwa tugaskulah seharusnya yang lebih berhati-hati sebagai muslim dalam memilih dan memilah makanan dan minuman yang aku konsumsi.
Btw, kalau tidak salah rumah makan yang aku singgahi adalah rumah makan yang menyajikan menu masakan daerah namun ada menu yang menggunakan bahan makanan non halal (selain pork and lard). Entah apakah masih berjualan atau tidak saat pandemi ini, semoga mereka baik-baik saja.